Wednesday, November 1, 2006

Penduduk Jepang Mulai Menua

Dinamika Negeri Sakura (3-Habis)
DALAM perjalanan dari Kyoto (Honshu) ke Hakata (Fukuoka), Jepang, dengan Sanyo Shinkansen, saya sempat terlibat percakapan menarik dengan Tomoko Hattori, seorang staf Nihon Shinbun Kyokai. Kebetulan kami duduk berhadapan selama dua setengah jam dalam kereta peluru berkecepatan maksimal 300 km/jam tersebut.
Setelah perempuan paro baya itu menanyakan banyak hal tentang keluarga dan pekerjaan saya, gantian saya bertanya. Mendengar usianya di atas 40 tahun, saya pun melontarkan pertanyaan tentang siapa suaminya, berapa anaknya, dan bagaimana pekerjaannya.
"Saya masih lajang, jadi belum punya suami apalagi anak, dan sekarang tinggal bersama ibu. Sebenarnya, ibu sudah lama menginginkan saya segera menikah, tapi ya tetap seperti inilah keadaannya. Saya sudah lama bekerja di NSK, sekitar 20 tahun," jawabnya santun.
Nihon Shinbun Kyokai (NSK) adalah organisasi serikat penerbit terbesar di Jepang yang bersama Confederation of ASEAN Journalist (CAJ) menyelenggarakan program fellowship yang saya ikuti selama sebulan.
Mendengar jawaban itu, saya jadi sungkan untuk melanjutkan pertanyaan. Pertanyaan serupa kemudian saya tujukan kepada Chizuru Hatakenaka yang duduk di sebelah Tomoko. Ternyata perempuan bawahan Tomoko di NSK itu juga memberikan jawaban serupa. Bedanya, Chizuru sudah mempunyai pacar dan berencana menikah dalam waktu dekat.
Krisis Penduduk
Seperti kecenderungan di negara-negara maju lainnya, banyak warga Jepang, terutama yang memiliki pekerjaan bagus, enggan segera menikah pada saat kariernya tengah menanjak. Kalaupun mau menikah, banyak wanita berpikir sekian kali untuk memiliki anak. Salah satu alasannya, kehadiran anak akan merepotkan dan banyak menyita perhatian sehingga kariernya bisa terancam.
Akibat kecenderungan itu, kini Jepang mulai mengalami krisis pertumbuhan penduduk. Menurut data dari Biro Statistik, Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, penduduk per 1 Oktober 2005 berjumlah 127,8 juta jiwa atau menurun sekitar 20.000 jiwa dibanding dengan perhitungan pada tahun sebelumnya.
Negara yang sejak bulan lalu dipimpin oleh perdana menteri baru, Shinzo Abe, itu kini mengalami proses depopulasi. Angka kelahiran menurun cukup signifikan sehingga jumlah penduduk mengalami penurunan dan diprediksikan masih akan terus berlangsung.
Dampak lainnya, penduduk mulai menua atau jumlah penduduk tua meningkat. Catatan statistik menunjukkan, persentase penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai 20%, sedangkan yang berusia di bawah 15 tahun hanya 13% dari total populasi negara Jepang.
Bahkan di Prefektur Toyama, 150 km barat laut Tokyo, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 21% pada tahun ini. Toyama merupakan prefektur (setara provinsi-Red) dengan penduduk tua terbanyak di Jepang.
Fasilitas
Dengan kenyataan seperti itu, di Jepang memang sangat jarang terlihat anak-anak atau remaja di tempat umum, apalagi anak jalanan seperti yang banyak kita lihat di Indonesia.
Sebaliknya, banyak orang tua berusia di atas 65 tahun dijumpai di sana bahkan sebagian masih aktif bekerja sebagai supir bus, supir taksi, dan petugas kebersihan.
Menghadapi jumlah penduduk tua yang semakin meningkat, pemerintah Jepang menerapkan beberapa langkah untuk menfasilitasi mereka.
Di antaranya, membangun sistem transportasi yang mudah digunakan oleh para manula dan mendirikan pusat-pusat pelatihan bagi mereka agar tetap aktif dan mandiri.
Contoh konkretnya adalah penggalakan industri mobil mini Takeoka yang mudah digunakan oleh para manula. Mobil bertenaga listrik itu dilengkapi pintu belakang yang otomatis menjadi jembatan landai ketika dibuka, sehingga manula yang menggunakan kursi roda dapat langsung masuk ke mobil lewat belakang.
Selain itu, sistem transportasi umum seperti tram dan kereta juga dibuat semudah mungkin agar "ramah" terhadap para manula. Misalnya, pijakan di pintu masuknya dibuat rendah bahkan rata dengan lantai halte sehingga para penumpang tua tidak kerepotan ketika akan menaikinya.
Toyama dijadikan sebagai daerah percontohan pusat pelatihan manula. Di kota itu dibangun banyak panti yang dilengkapi dengan peralatan fitnes dan fasilitas pendukung lainnya. Dengan latihan fisik itu, diharapkan para manula bisa tetap mandiri dan mejalani aktivitas lebih lama. (Asep BS-46n)

Click for More...

Tuesday, October 31, 2006

Harga Ponsel Murah tapi...

Selasa, 31 Oktober 2006

Dinamika Negeri Sakura (2)

KENDATI di Jepang ditawarkan aneka telepon selular (ponsel) baru berkualitas bagus dengan harga murah, jangan terburu-buru untuk membelinya jika kita berkesempatan berkunjung ke negara itu.
Harganya memang cukup murah, yakni mulai 6.000 yen atau sekitar Rp 450 ribu, tapi kartu GSM kita tak bakal cocok karena semua handset yang ditawarkan berbasis jaringan W-CDMA.
Kita boleh saja membeli ponsel tersebut, tapi jangan berharap bisa memakainya di Indonesia, karena semua ponsel dilengkapi dengan sistem pengaman khusus sehingga hanya bisa dipakai di Jepang saja. Demikian pula sebaliknya. Jika membeli kartu operator setempat, ponsel kita tidak akan conect, karena sistem jaringannya jelas berbeda.
Beberapa operator di negara itu menawarkan handset gratis, tapi kita harus berlangganan minimal tiga bulan. Sayang, syarat berlangganannya cukup sulit bagi para pendatang, karena harus disertai photo copy KTP orang Jepang sebagai penjamin. Itu yang merepotkan. Apalagi jika kita hanya berada di negara itu untuk beberapa minggu, padahal syarat berlangganan minimal tiga bulan.
Sebenarnya ada solusi agar kita tetap bisa memakai kartu GSM di Jepang, yakni meminjam ponsel khusus yang disediakan di Bandara Internasional Narita, Tokyo. Sayang, biaya sewanya mahal, yakni 600 yen atau sekitar Rp 45 ribu/hari.
Belum lagi kita harus memikirkan biaya percakapan internasional yang bisa mencapai puluhan ribu rupiah per menit, dan syarat penyertaan photo copy KTP orang Jepang sebagai penjamin.
Etika Berponsel
Jika di Indonesia kita sering terganggu oleh dering ponsel atau suara keras orang yang sedang berbicara via ponsel, tidak demikian dengan di Jepang. Selain banyak peraturan yang melarang hal-hal semacam itu di ruang publik, masyarakat lebih banyak memanfaatkan ponsel untuk bertukar data dan browsing internet ketimbang percakapan.
Suatu saat ketika saya bertanya soal short message service (SMS) dengan Naoko Niimi, ibu angkat saya di Itabashi, Tokyo, dia malah bingung. Ternyata orang Jepang tidak mengenal istilah SMS. Untuk berkirim pesan via ponsel, mereka menggunakan fasilitas e-mail atau pesan singkat multimedia.
''Dengan fasilitas itu saya bisa mengirim teks plus gambar, suara, atau video sekaligus,'' ujar Naoko.
Ya, sistem selular generasi ketiga (3G) yang baru-baru ini mulai diberlakukan di Indonesia telah diterapkan di Jepang sejak 2001, sehingga fasilitas akses internet pita lebar (broad band) sudah sangat terbiasa dilakukan via ponsel.
Internet
Berbicara soal internet, hampir setiap rumah tangga di Tokyo berlangganan internet serat optik berkecepatan 100 Mbps. Biaya langganannya 6.000 yen atau Rp 450 ribu/bulan, dan akses tidak dibatasi oleh jumlah kilobyte yang dipakai. Ongkos yang cukup murah, mengingat pendapatan rata-rata warga biasa di Tokyo di atas Rp 15 juta/bulan.
Di Indonesia, biaya berlangganan internet mahal, bahkan bisa dibilang termahal dibanding negara-negara lain. Biaya internet sistem dial-up sekitar Rp 9.000/jam, padahal kecepatannya masih lambat. Dengan pendapatan masyarakat yang rendah, biaya sebesar itu tergolong mahal.
Kendati demikian, Tokyo Metropolitan boleh dibilang pelit dalam urusan penyediaan fasilitas akses internet nirkabel (hotspot) gratis bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Jepang.
Saat mendarat di Bandara Narita, saya mencoba mencari sinyal penyedia hotspot melalui laptop wireless fidelity (Wi-Fi) yang saya bawa untuk mengakses internet.
Sinyal ditemukan, namun sayang saya harus membayar cukup mahal untuk mendapatkan password yang diperlukan. Demikian pula ketika hendak melakukan hal yang sama di beberapa hotel dan mal di Tokyo. Padahal ketika saya berada di kota-kota lain di Jepang bagian tengah dan selatan seperti Toyama, Tsukuba, dan Fukuoka, banyak akses hotspot yang disediakan secara bebas dan gratis. Kereta JR Express menuju "Kota Riset" Tsukuba juga menyediakan hotspot gratis.
Bukan apa-apa, akses internet yang cepat dan murah sangat dibutuhkan untuk mencari data pendukung guna menyelesaikan tugas saya sehari-hari selama sebulan mengikuti program NSK-CAJ Fellowship di Jepang.

Click for More...

Monday, October 30, 2006

Bertahan dengan Benteng Tsunami

Dimuat di Suara Merdeka Senin, 30 Oktober 2006, Hal 1

Dinamika Negeri Sakura
(1)

Belum lama ini wartawan Suara Merdeka Asep Bina Septriono berada di Jepang untuk mengikuti program fellowship yang diselenggarakan Nihon Shinbun Kyokai (NSK) dan Confederation of ASEAN Journalists (CAJ). Beberapa pengalaman yang mengesankan diturunkan dalam tulisan mulai hari ini.

JEPANG menarik untuk dikunjungi karena sangat konsisten terhadap pelestarian tradisi dan budaya di tengah upaya pengembangan teknologi. Namun, negara kepulauan itu juga menakutkan untuk didatangi karena berbagai bencana alam, seperti topan, gempa, dan tsunami yang sering terjadi.
Selama sebulan mengunjungi beberapa daerah di Jepang bagian tengah dan selatan, setidaknya terjadi satu kali badai topan hebat dan dua kali gempa. Badai taifu juusan-go (topan ke-13) melanda kawasan selatan pada 17 September dan menelan sedikitnya delapan korban jiwa.
Topan di sana diberi nomor urut karena frekuensinya sering, rata-rata 25 kali dalam satu tahun. Gempa terjadi selama beberapa detik ketika saya sedang berjalan pulang dari Gedung Diet (legislatif) di pusat Kota Tokyo. Guncangan relatif kuat sehingga orang yang sedang berdiri atau berjalan terasa mau jatuh.
Seperti halnya Indonesia, Kepulauan Jepang sangat berpotensi diguncang gempa karena secara geografis terletak pada pertemuan beberapa lempeng tektonik. Kawasan Kanto yang di dalamnya termasuk Tokyo Metropolitan merupakan salah satu daerah paling rawan gempa.
Delapan puluh tiga tahun lalu, 1 September 1923, gempa berkekuatan 8,4 pada skala richter mengguncang Tokyo dan beberapa daerah sekitarnya di kawasan Kanto. Gempa ini menelan lebih dari 100.000 jiwa dan meluluhlantakkan bangunan.
Langkah Antisipatif
Para pakar memprediksi, gempa kanto akan terulang setiap 80-90 tahun sekali sehingga pemerintah menyikapinya dengan langkah-langkah antisipatif. Antara lain memasang sistem peringatan dini, melakukan sosialisasi dan latihan rutin, serta secara bertahap mengganti bangunan yang ada dengan konstruksi tahan gempa.
Pemerintah rutin mengadakan latihan kesiapan (preparedness drill) menghadapi gempa yang diikuti semua warga setiap 1 September sekaligus untuk memperingati bencana tersebut. Latihan digelar secara simultan di beberapa distrik penting di Tokyo.
Saya berkesempatan menyaksikan langsung latihan di tepi Sungai Arakawa. Latihan melibatkan belasan helikopter termasuk jenis jumbo Chinook, kendaraan pemadam kebakaran, dan puluhan perahu.
Kegiatannya meliputi latihan sistem peringatan dini (early warning sytem), evakuasi, pertolongan pertama terhadap korban, dan pemadaman kebakaran. Banyak pelajar termasuk anak TK ikut latihan ringan sebagai pengenalan sejak dini tentang penanganan gempa.
Yang menarik, dalam latihan itu juga disediakan mesin simulasi gempa berupa ruang kotak seluas 4 x 4 meter yang dilengkapi meja dan kursi. Ruang itu akan berguncang sesuai dengan skala seismik yang diinginkan.
Seorang instruktur memberikan petunjuk tentang langkah apa saja yang harus dilakukan jika terjadi gempa, antara lain berlindung di bawah meja sambil memegangi kaki meja erat-erat.
Tsunami
Bila gempa besar terjadi di dasar laut maka berpotensi menimbulkan tsunami. Secara harfiah, tsunami berasal dari bahasa Jepang, yang berarti ombak besar di pelabuhan. Kini, ia sudah menjadi istilah yang mendunia.
Prefektur (setara provinsi-Red) Shizuoka bisa dijadikan sebagai contoh untuk menggambarkan betapa serius pemerintah setempat dalam mengantisipasi tsunami.
Gempa terakhir terjadi pada 1854 dan menimbulkan tsunami yang memorak-porandakan kawasan pantai termasuk kota pelabuhan Numazu, sekitar 100 km barat daya Tokyo. Gempa serupa diprediksi akan kembali mengguncang Shizuoka setiap 100-150 tahun sekali.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah setempat, sampai-sampai di sepanjang pantai kota pelabuhan tersebut dibangun semacam benteng setinggi lima meter yang dilengkapi beberapa pintu gerbang kedap air. Jika gempa terjadi, sistem peringatan dini akan berbunyi dan pintu gerbang segera menutup secara otomatis.
Pohon-pohon besar terlihat banyak ditanam di dekat benteng sebagai pelindung kedua untuk meredam hantaman air bah dari laut. Selain itu, di dekat pantai banyak didirikan bangunan bertingkat khusus kedap air untuk sarana evakuasi darurat.
Bangunan-bangunan tersebut dilengkapi dengan berbagai persediaan untuk bertahan hidup, seperti makanan, selimut, tenda, obat-obatan, dan perlengkapan masak.
Yang unik, makanan persediaan darurat berupa roti, biskuit, dan bahan bubur instan tersebut diproduksi khusus sehingga mampu bertahan 25 tahun. Hal itu terlihat pada kemasannya yang mencantumkan tahun produksi 2000 dan tahun kedaluwarsa 2025.
Ya, pemerintah setempat terlihat begitu serius mempersiapkan diri melindungi warganya karena mereka yakin gempa dahsyat masih berpotensi terjadi lagi dalam waktu dekat.

Click for More...

Monday, February 6, 2006

A Road that Turned into a River

Recently, Kaligawe road on where my office is located absolutely became a river. Hard rain that had been pouring Semarang for two days and two nights nonstop since Thursday evening, 2 February2006, generated extensive flood on every single lower road, including Kaligawe. And you could imagine how terrible it would be. As the main road in the north that is connecting Semarang to other places eastward with huge burden of vehicles, Kaligawe road was getting crowded and a traffic jam definitely emmerged. The flood level reached 60 cm or as high as human hip. The flood was occupying the lobby of my office as well. It was adult-knee high and destroying paper and electronic material such as books, CPU, and anything placed in the lower drawers.

Click for More...